Hello And Goodbye

Zie being Zie again, the writer who
throws every single random thing that
comes to her mind right now!!!

*membersihkan debu-debu dan sarang laba-laba di blog ini*

Guess what I haven’t left this blog yet *giggles*

Okay the last time I posted something to this blog was on
August 14th already a half year has passed and lots of things
happened to my life of course.

Tunggu-tunggu. Ini kenapa jadi sok enggris gini sih? Hahaha…gara-gara mampir blog om Dani (http://danirachmat.com) sebenernya. Saya mampir ke blognya om Dani, trus lihat postingannya banyak yang pake english. (Kebetulan nulis ini juga sebenernya gara-gara kesindir twitnya dia hari minggu kemarin yang bilang harusnya berpikir lagi soal alasan-alasan yang kadang cuma dibuat-buat biar nggak nulis).

Well, balik lagi. Udah genap setengah tahun saya meninggalkan blog ini. Malu sebenernya, karena postingan terakhir saya janji buat rajin nulis lagi. Hahaha…

Setengah tahun. Lumayan lama. Tapi ada beberapa kejadian yang bisa di kilas balik sedikit.

Ada beberapa kabar baik di bulan September. Saya punya komunitas baru, dan teman-teman baru di kota yang baru juga saya tempati : Palembang. Punya kesibukan baru… Sesuatu yang berbau musik dan jejepangan 😀

Bulan Oktober-Desember , dikasih kesempatan menjalin hubungan dengan seorang cowok (walau akhirnya kandas juga :D). Tapi senggaknya bisa bikin saya have fun dan balik jadi “manusia normal” dan menjalani aktifitas normal seperti makan di luar atau nonton. Yah, maklumlah… Hal langka tuh begituan waktu masih jadi jurnalis.

Terus untuk kedua kalinya, tulisan saya (kali ini cerpen) berhasil memenangkan sebuah event di kompasiana. Katanya sih mau dibukukan juga. Cuma nggak tahu sampai sekarang belum ada kabar. Kalo hadiah duitnya sih udah habis lama 😀

Januari February. Ah, saya nggak tahu apa yang terjadi. Saya merasa flat aja dua bulan ini. Malah nggak berasa udah 2 bulan lewat begitu aja. Kecuali ulang tahun pernikahan ortu ke 28 sekaligus ulang tahun abang saya pada 25 Januari (ya. Bareng,pemirsa. Dan saya jadi anak tiri lagi). Terus juga ulang tahun saya sendiri 8 Februari kemarin… Seneng juga masih ada yang ingat (dan ngasih kado yang penting! Wuahahahaha).

Sam apa kabar , Zie?
Baik. Walau agak galau karena uang buat mahar untuk ngelamar ceweknya nggak cukup-cukup 😀 (Semangat, Sam! Yakin bisa!!!!)

Yup. Kami masih berteman. Masih saling menyayangi dan mendoakan… #tsaaaah
Intinya hubungan kami masih baik-baik saja walaupun sudah menjalani hidup masing-masing.

***

Well, tadi sudah saya singgung sedikit di atas soal om Dani. Tapi saya benar-benar merenungkan bagaimanana saya bisa begitu lama tidak menulis lagi.

Busy? Nggak juga tuh. Santai banget malah.
No Idea? Nggak juga. Buktinya, diary dan note saya di hp masih penuh dengan tulisan-tulisan saya yang nggak jelas.

Jadi apa?

Akhirnya saya sadar, blog inilah yang jadi penyebabnya.

Blog ini?

Iya. Blog ini.

Blog ini udah nggak nyaman lagi buat saya. Pokoknya nggak nyaman aja. Titik. (Nggak usah tanya-tanya kenapa, oke?).

Maka yang harus dipikirkan adalah, gimana saya bisa merasa nyaman biar bisa menulis lagi? Dan solusinya muncul begitu saja. Bikin aja blog baru. Dan ini sudah dilakukan berbulan bulan lalu…hanya blog baru belum ada isinya.

Jadi, begitulah. Postingan ini akan benar-benar jadi postingan saya yang terakhir. Di blog ini… Karena saya akan pindah ke rumah baru (jeng jeng jeng).

Jadi, kawan-kawan…yang mengenal atau tidak mengenal Zie. Yang follower maupun sekedar silent reader…

Kalo masih mau baca tulisan dan cerita tentang Zie… Monggo kunjungi

http://ficarica.wordpress.com (rencananya mau dibikin jadi ficarica.com dalam waktu dekat)

sampai jumpa di rumah Zie yang baru 🙂

Zie Is Back Part 2

Sebelumnya….

 untitled

***

Waktu ketemu Sam, suasananya udah nggak enak buat ngobrol. Duren yang manis itu pun jadi terasa nggak enak di mulut. Saya emang bisa menahan diri untuk nggak ngamukin Sam di rumah tetehnya itu. Tapi Sam pasti bisa dengan jelas melihat amarah dan kekecewaan di raut wajah saya. Berulang kali hanya kalimat “Maafin gue, Zie,” yang keluar dari bibir Sam yang jontor karena sariawan itu.

Oh, kalau Sam tahu gimana rasanya seorang Sanguinis menahan emosinya ini….. ckckck….

Tapi toh saya bertahan. Walau penuh penuh perjuangan, saya toh berusaha mikir positif. Besok Sam sudah harus berangkat ke Bandung. Tahun depan ketemu lagi? belum tentu. Rumah saya bukan di Bengkulu lagi. Belum lagi kalau salah satu dari kami sudah menikah tahun depan. Syukur – syukur kalau kami berdua dikaruniai umur panjang, kalau tidak?

Pikiran – pikiran seperti itu yang bikin saya akhirnya merasa begitu sayang, kalau pertemuan kami harus diisi dengan amarah dan kekecewaan. Ya. Saya marah, saya kecewa. Tapi toh, Sam sudah minta maaf kan? waktu setengah hari Sabtu siang juga nggak akan mungkin kembali kalau saya tetap marah – marah.

Then, saat Sam mengantar saya pulang ke gerbang komplek, saya sudah bisa ngobrol biasa lagi dengan Sam walau hanya singkat. Saya juga memberikan sesuatu untuk Sam. Salah satunya pasti akan bikin dia muntah. Tapi sudahlah, toh sudah lama saya siapkan sesuatu itu… dari sejak pertama dia menantang saya. Lega, akhirnya bisa tersampaikan secara langsung dan tidak melalui paket. (Haha, poin yang ini rahasia ya, kecuali nanti kalau Sam berani posting di blognya :D).

Saat saya sampai di rumah mbah, SMS dari Sam masuk di HP saya. Isinya pakai bahasa Bengkulu. Kalau ditranslate artinya kira – kira :

“Salut banget gue ke loe, Zie. Semarah apapun loe ke gue, pada akhirnya loe bisa tersenyum ikhlas!”

Saya terdiam. Saya merenung, apa yang membuat saya bisa seperti itu. Saya sadar bahwa saya adalah makhluk emosional. Saya merasa marah, kecewa, sakit hati. Tapi di atas semua itu, saya juga menyadari satu hal… bahwa saya menyayangi Sam. Apapun yang dia lakukan untuk membuat saya membencinya… semuanya kalah oleh perasaan kasih sayang yang ada di hati saya sejak saya mengenalnya.

Saya bukan seorang yang religius. Tapi saya tahu bahwa dasar kekristenan adalah kasih. Melalui Sam, saya belajar kasih yang diajarkan Yesus sendiri. Bahwa kasih, bukan hanya untuk saudara seiman saja. Bukan hanya untuk orang – orang yang baik dengan kita. Bukan hanya untuk orang – orang yang membalas perasaan kita. Tapi kasih harus berlaku sama untuk orang – orang yang menyakiti kita. Kasih harus tetap ada untuk mereka yang membuat kita menangis. Kasih harus tetap ada walaupun kita dikecewakan. Dan saya tahu, itu bukan hanya teori… tapi benar-benar harus dilaksanakan dalam kehidupan nyata!

Adik Sam kemarin bertanya, saya sayang pada Sam sebagai apa. Kalau Sam tidak punya perasaan yang sama bagaimana?

Dulu, pertanyaan itu juga mengusik saya. Saya selalu kepo, Sam itu menganggap saya sebagai apa. Kekasihkah? temankah? sahabatkah? saudarakah?

Tapi sekarang, semua itu nggak penting lagi buat saya. Saya bahkan nggak akan melabeli Sam sebagai sahabat atau mantan pacar atau teman saya lagi. Semua itu, menurut saya hanya status. Yang menentukan sebetulnya adalah hati. Dan hati saya ternyata memang menyayangi Sam. Sangat menyayangi Sam.

Sekarang, tinggal bagaimana memupuk sayang itu untuk tetap ada. Karena perbedaan jarak, juga keterbatasan waktu sudah terbukti punya andil hebat dalam “memisahkan” saya dan Sam.

Sam, kalau loe baca tulisan ini, gue benar- benar berharap kita tetap keep in touch. Terlalu sayang, Sam… kalau semua ini harus berakhir hanya karena jarak dan waktu. Gue nggak minta loe selalu ada buat gue. Gue tahu, kita toh punya kehidupan sendiri – sendiri yang harus dijalani. Tapi paling ga… komunikasi harus tetap ada, Sam. Gue punya mimpi, suatu saat nanti kita liburan bareng dengan keluarga kita masing – masing. Jadi kalau bisa, loe pilih calon istri yang kira – kira nggak anti sama gue ya, Sam? Hehe…. gue juga gitu. Gue janji ntar sebelum nikah, gue bakal nemuin calon laki gue sama loe dulu 😀

Oke, Sam?

Ini gue nemu video bagus. Loe kan suka puisi… Tapi kali ini puisinya bahasa Inggris. Nih, gue salin di sini biar loe ga repot…

Why GOD Gave Us Friends
 

GOD knew that everyone needs
Companionship and cheer,
He knew that people need someone
Whose thoughts are always near.
 
He knew they need someone kind
To lend a helping hand.
Someone to gladly take the time
To care and understand.
 
GOD knew that we all need someone
To share each happy day,
To be a source of courage
When troubles come our way.
 
Someone to be true to us,
Whether near or far apart.
Someone whose love we’ll always
Hold and treasure in our hearts.
 
That’s Why GOD Gave Us Friends!

 

 

Zie Is Back Part 1

Helo Everyone. Zie is back 🙂

Udah lama banget ya blog ini nggak diupdate. Sebetulnya, selama blog ini mati suri selama beberapa bulan … ada pergumulan untuk menutup blog ini dan move on, mengulang segala sesuatunya dari awal lagi.

Yup. Kehidupan di dunia nyata saya juga baru restart nih. Sekarang saya sudah bukan anak Bengkulu lagi. Tapi sudah pindah ke Sumatera Selatan. Hanya 14 KM dari kota Palembang (Hayo, bloger Palembang. Kopdar yuukk :D)

Ampera

Ampera. Kini dekat di mata.

Terus apa hubungannya dengan blog ini?
Yah, bisa dibilang ini berkaitan dengan Sam. Sejak awal blog ini dibuat, garis besarnya memang untuk menampung semua cerita tentang saya dan sahabat saya, Sam. Tapi belakangan (beberapa bulan terakhir), terus terang saja, saya benar – benar lelah. Bosan dengan hubungan yang semakin lama semakin nggak jelas. Maksud saya, siapa sih yang mau menulis terus tentang hal – hal yang bikin galau dan mewek?

Sebetulnya, ga ada masalah berarti sih dengan Sam. Yah, okelah kami bertengkar beberapa kali. Tapi entah kenapa, saya benar – benar jenuh. Saya merasa Sam bukanlah Sam yang dulu. Ya, dia masih mendengarkan curhat saya di telpon -sesekali-, tidak sesering dulu karena saya juga memahami kesibukan dia. Tapi yang sesekali itupun, menurut saya begitu hambar. Obrolan kami makin lama makin seperti sekedar basa basi saja. Garing. Perlahan, jarak mulai menunjukkan taringnya. Ia mengikis kehangatan yang sudah terjalin selama ini terjalin.

Dulu, kalau mau telpon ya telpon aja. Sekarang, mau telpon harus mikir 100 kali dulu … mempertimbangkan Sam sibuk atau nggak. Dan, terus terang… tidak terlalu nyaman untuk ngobrol nyablak dengan Sam saat tahu dia tidak sendirian di kamar kosnya di Bandung sana.

Dulu, kalau lagi sedih, pengen nangis atau pengen teriak – teriak, ya teriak aja. Diomongkan semuanya. Tapi sekarang, lebih banyak nggak enak hatinya. Mulai mikir penting nggak sih ceritain hal-hal remeh macam itu ke Sam? Alhasil, setiap kali Sam nanya kabar saya hanya bilang “I’m ok”, walaupun sebenarnya nggak ok. Berbohong untuk sesuatu yang ingin Sam dengar, jadi semakin lancar… Ya. Saya tahu Sam pastinya akan lebih senang mendengar kalau saya baik – baik saja dan Happy di tempat baru daripada tahu yang sebenarnya, bahwa saya masih sama nelangsanya dengan di tempat yang lama.

 

***

Keinginan untuk menutup blog ini kian kuat saja. Email baru untuk akun blog anyar sudah saya buat. Nama blog barupun sudah ada. Bahkan postingan tentang bakal ditutupnya blog ini sudah saya ketik rapi. Tapi toh, sampai detik ini tulisan itu hanya teronggok di draft. Entah mengapa… berat sekali rasanya. Karena menutup blog ini, akan sama artinya dengan mengakhiri hubungan saya dengan Sam secara tidak langsung.

Sampai akhirnya, tiba- tiba Gereja saya di Palembang mendapat undangan acara Bible Camp, khusus pemuda/i selama 4 hari 3 malam. Lokasinya di kota Curup, masih masuk Provinsi Bengkulu. Sayangnya, acara itu dimulai di awal Ramadhan. Seandainya saja acaranya bisa diundur sampai Lebaran, saya pasti bisa ketemu Sam. Toh, Sam pasti mudik ke Bengkulu.

Tapi Tuhan memang Maha Ajaib dan Maha Iseng selama saya di Bengkulu. Dengan ke-isenganNya, Tuhan mengizinkan dompet yang berisi ongkos pulang ke Palembang beserta surat penting lainnya (SIM,ATM,dll) raib. Ditambah lagi proses pengurusannya yang ribet tingkat dewa, akhirnya kepulangan saya terpaksa ditunda. Ya. Hikmahnya adalah, saya jadi bisa ketemu dengan Sam yang mudik, H-5 lebaran.

Sam di Bengkulu sekitar seminggu. Tapi kami hanya bertemu dalam hitungan jam saja. Nggak ada acara heboh – hebohan sama sekali. Bahkan sekedar jalan- jalan ke pantai Panjang pun tidak sempat karena Sam buru- buru pulang ke rumah orang tuanya di dusun. Dan… dalam pertemuan yang singkat itu pun, Sam sempat -sempatnya bikin masalah.

Intinya, Sam membuat saya menunggu untuk bertemu dia dari jam 11 siang hari Sabtu. Tidak ada pemberitahuan apapun. Sms tidak dibalas, dan telpon pun juga tidak diangkat. Membuat saya membatalkan rencana jalan – jalan saya dengan kawan SMA. Dengan perut menahan lapar (karena saya benar-benar kangen makan bareng Sam), saya menunggu dalam ketidakpastian. Sungguh saya tidak tahu dia dimana dan ada urusan apa.

Baru jam 6 sore, sebuah SMS yang mengatakan bahwa dia membatalkan rencana pertemuan itu, dan menyuruh saya menemuinya di loket Bus saat dia pulang ke Bandung keesokan harinya karena dia capek. Wow. Hebat. Luar Biasa.

Zie yang biasanya pastinya akan ngamuk habis-habisan. Tapi Entahlah. Sekali ini saya benar – benar capek. Kalaupun saya marah, saya sudah bisa prediksi kalimat macam apa yang akan keluar dari bibir Sam.

Beruntung, hari itu saya bertemu dengan adik Sam yang ganteng itu. Beruntung juga, pacar adiknya Sam itu lagi mudik, jadi dia bisa saya culik buat nemenin saya makan. Ya. Setelah semua kelelahan itu, saya betul – betul butuh ditemani.

Sayangnya, mood saya yang kacau balau berimbas pada nafsu makan. Bukannya makan, saya malah nangis di depan adiknya Sam itu. Malu sebetulnya. Bagaimanapun juga, adeknya Sam kan bukan Sam. Dia orang lain. Tapi memang semuanya tidak tertahankan lagi.

Mungkin karena kasihan atau apa, si adeknya Sam ini ngambil foto saya yang nangis itu dan langsung mengirimkannya ke Sam. Yah, Sam pasti merasa bersalah, karena beberapa menit kemudian adiknya Sam bilang “Ayok, Zie. Ketemu Sam di rumah teteh. Aku yang antar,”

Saya yang masih jengkel sempat menolak ajakan itu. Tapi kemudian dia menunjukkan pesan Sam yang nyuruh beli duren dulu…. hati saya jadi tergoda.  Ya… semarah apapun, kalau ini soal ajakan makan DUREN … mana bisa nolak sih???? :p :p :p

 

<bersambung ke part 2>

foto dicolong dari
www.tripadvisor.com

Mempraktikkan Kasih, Tapi Dicela. (Oh, Indonesia!)

Masih segar dalam ingatan kasus pembunuhan dengan korban Ade Sara yang harus meregang nyawa di tangan 2 teman SMA-nya sendiri. Mayat Ade sendiri dibuang di jalan tol dan baru ditemukan 2 hari setelah kejadian.

Saya nggak bakal menyoroti perkembangan kasusnya (karena udah telat) :p
Tapi terus terang, ada yang sedikit mengusik pikiran dan perasaan saya saat membaca berita di sini dan di sini.

Saya ralat, bukan beritanya yang mengusik saya. Tapi komentar – komentar bernada sinis dan miring yang ditujukan pada ibunda Ade Sara karena ibu korban ini justru meminta maaf kepada pembunuh anaknya dan berniat membuatkan burger (karena waktu masih pacaran, si pembunuh sudah sering dibuatkan makanan).

Ini saya kutipkan beberapa contoh komentar bernada miring yang dimaksud:

 

 

“Burgernya kasih racun aja biar mampus sekalian tuh orang !! ” _ Fuzee

“Kenapa harus dipaksakan, terus masih saja melakukan hal2 yg betentangan dengan kesadaran. Ngapain umpanin burger lagi mending buat orang yang bukan pembunuh Ade, panti asuh, jompo msh banyak..” _ Cecep Sofian

“Kalo gue paling bikin tahu isi buat dimakan si hafitz. tahu isi sianida…!!” _ Ogut Man

“ORANG TUA SEPERTI INI SEHAT ATAU SINTING SIH??????” _ Orang puyeng

“sebaiknya ibu istirahat dulu, jaga kesehatan … berkumpul bersama keluarga kerabat & sahabat… dan mendoakan ananda yang terbaik … nggak usah meladeni media yg pertanyaannya macem -macem …” _sempruldah

“perhatian sih boleh tapi gak usah lebay…orang jadi curiga dan bertanya2 ada apa dibalik semua ini ??…saya salut dg ketabahan orang tua almarhum.. namun tidak perlu sampai macam gini..akhirnya yg muncul justru prasangka yg tidak baik dari masyarakat yang akhirnya akan menghilangkan rasa simpati..” _ asthilaks rahardjo.

“sekalian saja adopsi si pembunuh tuh…lagian kok gak bisa biasa sajalah buk… yg ada nanti ditunggangi orang jahat dgn membubuhkan sesuatu ke burger malah jadi ruwet urusannya. disangka mau balas dendam.” _ Donita

 

(dan masih banyak lagi yang bernada serupa).

 

***

Well, tidak salah memang berprasangka macam – macam tentang ibunya Ade Sara ini. Karena apa yang dia lakukan memang DILUAR KELAZIMAN manusia kebanyakan yang tersakiti. Bukannya memang lebih manusiawi kalau si ibu ini balas dendam, mengingat anak SEMATA WAYANGnya dibunuh dengan begitu sadis.

 

Tidak ada yang tahu apa motivasi dibalik tindakan sang ibu ini. Tapi saya memilih untuk tidak berpikir negatif, karena saya bisa sedikit memahami apa yang mendasari perbuatan tidak lazim ibu ini.

 

Bukan bermaksud berkhotbah, tapi yang saya tahu, ibu ini kebetulan berkeyakinan sama dengan yang saya anut. Jadi saya tahu… ibu ini sesungguhnya hanya melakukan apa yang memang SEHARUSNYA dilakukan oleh semua pemeluk agama kristen.

Berikut beberapa ayat, yang mungkin bisa sedikit membantu orang – orang yang terlanjur berpikir negatif tentang ibu ini.

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” _ * Matius 5:38-42,

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu,” Matius 5:43-44

“mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”  Lukas 6:28

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”  Roma 12:21
“Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air.  Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu.” _ Amsal 25:21-22

 

“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu  juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni  orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Matius 6 : 14 – 15

 

Nambah sedikit lagi, soal mengapa kok kaya’nya si ibu ini ikhlas banget anaknya mati, padahal si Ade ini anak tunggal lho.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Filipi 1 : 21.

 

Yup. Nggak ada orang ke surga kalau nggak mati duluan kan? (ups!)

 ***

"Kasih. Papa saya selalu bilang kalau kasih itu dasar kekristenan"

“Kasih. Papa saya selalu bilang kalau kasih itu dasar kekristenan”

Hmm, terlepas bahwa ajaran – ajaran itu seharusnya adalah ajaran BIASA bagi umat kristen, pada kenyataannya praktiknya tidak semudah yang dibayangkan. Banyak sekali orang kristen yang gagal mempraktikkan kasih yang seharusnya (termasuk saya :p). Kembali ke konteks kasus si Ade Sara, saya kira tidak berlebihan kalau ibu Ade sara ini sudah mencapai taraf keimanan yang luar biasa tinggi… maksud saya, orang dengan iman yang biasa – biasa saja (seperti saya misalnya), mungkin tidak akan sanggup melakukan hal yang demikian.

Eh iya lho… jujur saja… biarpun saya ke Gereja tiap Minggu dan mendengar khotbah serupa ratusan kalo, tapi kalau saya dihadapkan dengan kondisi macem ibunya Ade Sara ini… nggak tahu deh bakal jadi apa itu duo pembunuh itu :p

 

Tindakan ibunya Ade ini bikin saya malu. Beliau yang sudah disakiti demikian rupa… kehilangan sesuatu yang begitu berharga… masih sanggup memaafkan. Sementara saya, masih saja menyimpan dendam untuk orang – orang yang kesalahannya mungkin nggak ada apa – apanya dibanding pembunuh Ade Sara… (oh Tuhan, ampuni aku!)

 

***

Tapi sepertinya, di Indonesia ini memang manusianya susah untuk berpikir positif ya? Sepertinya mudah sekali menghakimi orang lain dan berkomentar seenak udel (kadang saya juga gitu sih :D)

Contohnya aja Pak Jokowi… niatnya bagus buat menjadikan Indonesia -nggak cuma Jakarta-  lebih baik… ada aja yang berkomentar seenak udel (Lha. Nggak nyambung :p)

Mudah – mudahan, dengan tulisan ini, saya bisa terus diingatkan… untuk tidak terburu – buru menghakimi sesuatu yang nggak kita tahu atau bahkan hal – hal yang di luar nalar dan kelaziman manusia mayoritas. Siapa tahu, sesuatu yang di luar nalar itu sesungguhnya adalah sebuah sikap hati mulia yang kita sendiri belum sanggup mencapai levelnya.

 

Cheerss 🙂

 

 

_^_

Gambar dicolong dari Kaskus

 

Btw, Moonlight sonata part 9, 10, 11

udah ada. Tapi modem saya rusak,

dan flashdisk saya nggak tau kemana.

Bingung postingnya karena saya ngetik di laptop 😀

Sabar ya… 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Thanks, Sam. Tulisannya.

Manusia itu cenderung lebih senang mengingat kesalahan maupun kejelekan orang lain … Jarang sekali manusia yang terkesan dengan hal baik dan positif yang ada atau dilakukan.

Coba deh cek di sekitar kita (bisa juga menilai diri sendiri kalau mau), kalau ada orang yang melakukan sedikit saja kebaikan … tak jarang komentar seperti “Alah. Pencitraan itu mah!” atau, “Dia kaya’ gitu biar dapat pujian. Biar dibilang orang murah hati,” atau, “Tumben baik. Pasti ada maunya,” yang terdengar.

Hmm, apa itu menunjukkan kalau tidak ada lagi kebaikan yang tulus di dunia ini? Apa benar, semua kebaikan akan didasarkan pada -ada maunya- ?

***

Cukuplah prolognya. Pendek aja. Saya cuma mau cerita soal Sam. Sudah lama saya nggak menulis tentang dia.

Buat yang belum tahu, tulisan pertama blog ini, berisi sebuah keluhan. Ya. Itu memang suara hati saya.

Sejak tahu kalau Sam itu anaknya ‘nyastra’, saya ingin sekali Sam bisa menuliskan sesuatu yang ada hubungannya dengan saya.

Saya suka iri, kalau lihat blog dia isinya penuh dengan cerita nya bersama orang lain. Bisa keluarganya, teman – temannya, atau tulisan lain yang terinspirasi dari cerita perjalanannya. Saya iri, karena tulisan itu tidak pernah -memasukkan saya ke dalam unsur ceritanya-, sama sekali.

Suara hati itu, semakin hari rasanya semakin besar saja. Bahkan setiap kali ada kesempatan buat memita sesuatu sama Sam, saya cuma bilang

“Buatin tulisan tentang gue dong, Sam. Pokoknya yang ada hubungannya sama gue,”

“Tulisan apa emangnya?” tanya Sam.

 “Tulisan apa aja. Terserah lo,”

Sam menyanggupi.Tapi toh tulisan itu, tetap saja nggak pernah ada. Sama sekali. Saya cuma menunggu. Menunggu. Berharap. Dan berharap. Saya percaya, suatu saat nanti Sam akan menyerah. Dia pasti akan menulis -setidaknya satu tulisan-, dimana saya yang jadi inspirasinya.

***

Dan hari yang saya tunggu – tunggu itu datang juga. Begitu saya lihat blognya, ada tulisan baru. Dari paragraf awalnya saja, saya tahu kalau tulisan itu terinspirasi dari saya.

Ceritanya saya memang lagi marah dengan dia. Kekesalan saya ke dia sudah sampai ke ubun – ubun. Apa yang dia ucapkan, bukannya membuat saya calm down, tapi seperti menyiram bensin ke dalam api.

Jadi gini, ada dua kebiasaan Sam yang dia lakukan setiap kali saya kesal atau marah dengan dia. Pertama, mendiamkan saya. Kedua, menanggapi omongan saya dengan kalimat sebangsa : “Iya. Gue emang kaya’ gitu. Terserah lo mau ngomongi gue apa. Gue ikhlas. Gue terima!”

Kalimat itu kalau sampai saya dengar ketika lagi emosi, dipastikan saya akan semakin tidak terkontrol. Tidak hanya dengan Sam, tapi buat orang lain juga. Saya akan semakin marah dan jengkel luar biasa kalau ada kalimat kaya’ gitu. Dan kalau udah begitu, biasanya semua stok sumpah serapah saya akan meluncur begitu saja.

Ya. Saya memang kasar, pemirsa. Nyablak dan emosian sekali (makanya banyak yang nggak betah temenan sama saya). Tapi kalau yang udah kenal baik, pasti tahu kalau saya begitu nggak pernah lama. Tipikal sanguinis bangetlah… cepet marah – cepet ngambek – cepet nangis dan cepet lupa juga 😀

Ngng, balik lagi ke Sam. Jadi tulisan Sam itu isinya lebih kurang tentang orang yang ngata-ngatain dia. Tidak diragukan lagi, orang yang dimaksud adalah saya. Karena memang kalimat – kalimat yang ngatain dia itu memang keluar dari sms- sms yang saya kirim waktu berantem sehari sebelumnya.

Tulisan itu, walau isinya membenarkan kalimat – kalimat yang saya lontarkan dan berisi keikhlasan dan rasa syukur dia karena udah ‘dikata-katain’, menurut saya itu intinya cuma berisi pembelaan diri dia. Pembelaan diri, bahwa dia itu sebetulnya lari dari masalah yang dia buat dengan kedok “Gue bukan orang baik,Zie! Jadi lo harus maklum kalau gue bikin lo marah”.

Dipikirnya semua masalah beres apa dengan dia pasrah dikata-katain gitu? Tapi Sam emang gitu sih. Tipikal plegmatis. Menghindari (atau kalau perlu lari) dari konflik, dan bukannya MENYELESAIKAN masalah yang dia timbulkan.

Hmm, saya nggak akan memperpanjang ‘pertengkaran’ kami lagi. Toh, setelah saya pikir – pikir, saya sepertinya memang sudah terlalu kasar sama dia. Harusnya saya tahu, dimana – mana plegmatis memang seperti itu.

Pikiran saya dipenuhi sebuah emosi baru -entah apa namanya-, yang jelas bukan lagi rasa marah dan kesal. (Tuh kan, udah saya bilang. Kalau saya marah tu nggak pernah lama :p)

Saya cuma mikir … segitu jeleknya ya saya di mata Sam? Dari sekian banyak pengalaman yang kita jalani bareng – bareng selama 3 tahun ini… dia memilih pertengkaran kami untuk dituliskan.

Dia memilih, membeberkan kekasaran saya yang udah ngata-ngatain dia untuk diabadikan dalam sebuah tulisan pertamanya tentang saya.

Tidak bisakah dia menuliskan sesuatu yang lebih membahagiakan, daripada ‘hanya’ sekadar kesadisan kata – kata saya yang menyakitan itu? Hey, tulisan – tulisan di blog saya ini -khususnya yang tentang Sam-, mayoritas menyenangkan lho. Penuh dengan kenangan – kenangan yang pastinya indah dan bikin senyum kalau ingat.

Tapi saya nggak bisa protes juga sih. Bukannya waktu saya minta dia nulis sesuatu tentang saya, saya kan nggak bilang

“Sam, tulisannya ceritain tentang gue yang bagus – bagusnya aja ya? Yang jelek – jeleknya nggak usah ditulis :p”

He, iya sih. Saya terima kok kalau tulisan Sam tentang saya yang pertama itu berisi hal yang nggak enak. Tapi tetep aja sih, ada nyeseknya.

Seolah, hal manis yang saya lakukan selama ini nggak ada yang layak untuk dikenang ataupun diabadikan dalam sebuah tulisan. Di mata Sam, semua hal baik itu nggak ada yang semengesankan pertengkaran kami. Mungkin saya ini memang monster kali ya?Haha…

Sam, Gue ingat. Lo selalu bilang ke gue “Jangan pernah bilang gue orang baik, Zie. Gue nggak sebaik yang lo pikirkan. Gue ini jahat tahu,”

Tapi Sam, gue juga cuma orang yang bisa menyampaikan apa adanya. Lo nggak bisa maksa gue bilang lo jahat disaat lo begitu baik sama gue. 

Begitu juga sebaliknya. Gue nggak akan bilang lo baik disaat lo bertingkah nyebelin dan kejam banget sama gue gitu. Ini baru bulan Maret, dan lo udah lupa resolusi lo tahun ini.

Apapun, thanks buat tulisannya. Satu hutang janji lo udah terbayar…

***

“Manusia bukanlah malaikat yang selalu benar, bukan pula setan yang selalu salah. Ketidaksempurnaanlah yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Tapi ketidaksempurnaan seharusnya tidak membuat usaha kita untuk menjadi sempurna menjadi terhenti,”

Nb : Lagi males lanjutin moonlight Sonata.

Habis dikit banget yang komentar…

(haha, jujur banget ya :D)

[Fiksi] Moonlight Sonata (8)

Dikasih rating 17+  nggak ya?

:p (eh, tapi semua rangkaian cerita ini memang kategorinya dewasa lho. Jadi buat yang masih di bawah umur jauh – jauh sana. Hush…hush! *ngusir!*)

***

“Mmmhh, Raka. Ini di mobil,” keluh Ariel. Dia berusaha menjauhkan wajahnya dari bibir Raka. Namun dia tak bisa menghindari lengan cowok yang kokoh mendekapnya itu.

“Hei! Gue kangen, Beib,” kata Raka, berupaya tetap mencumbu Ariel meski cowok itu mati – matian menolak.

“Gu, gue juga. Tapi nggak di tempat umum juga kan?”

Raka mengalah. Dia menghentikan semua serangannya. Bahkan rangkulannya pada Ariel pun dilepaskan.

“Lo itu sayang sama gue nggak sih. Lo nggak pernah mau lakuin yang gue minta, Ariel,” kata Raka seperti melamun. Pandangannya diarahkan keluar kaca mobil. “Sekarang mau kangen – kangenan aja lo nggak mau. Gue rindu tahu. Berapa hari nggak ketemu,”

Ariel mendadak terdiam. Lalu tersenyum tipis. Tanpa disangka, dia malah balik memeluk Raka. Kepalanya disandarkan pada dada bidang cowok berpiercing itu.

“Gue juga kangen sama lo, Beib. Kangen banget malah,” ucap Ariel sambil menghirup wangi parfum Raka dalam – dalam.

“Tapi kalau soal gue selalu nolak apa yang lo minta, ngng – itu, lo tau kan, Ka?  kekasih yang baik pasti akan menjaga pasangannya dengan baik – baik pula. Bukannya malah merusak. Lagian, sesuatu yang dilakuin sebelum waktunya biasanya berakhir nggak bagus, Ka. Dan gue nggak mau itu kejadian, soalnya gue sayang banget sama lo,”

“Iya, Beib,” kata Raka tak sabar. Tangannya membelai bagian belakang kepala Ariel lembut. “Tapi, menurut gue, rasa sayang itu juga harus diwujudkan. Jangan cuma di omongan doang,”

“Maksudnya?”

“Kalau cuma berhenti di dalam hati, itu cinta yang lemah dan nggak berdaya. Dan kalau cuma sampai di kata – kata, itu pasti cinta yang palsu dan tidak nyata.  Cinta yang sempurna itu seperti pohon. Akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, dan buahnya menjumbai dalam tingkah laku. Jadi omongan dan perasaan aja tidak berlaku, Beib. Harus diwujudkan juga dalam perbuatan,” beber Raka berpuitis. Raka sudah hafal sekali kalimat – kalimat itu, dan menyampaikannya dengan begitu meyakinkan. Dia yakin, Ariel tidak akan ada tahu kalau semua itu hanya dikutipnya dari twit yang bertebaran di lini masanya.

Tapi Ariel, yang terbuai oleh kalimat – kalimat Raka itu perutnya mendadak seperti penuh dengan kupu – kupu. Dia sampai tidak menyadari bahwa wajah Raka kini begitu dekat dengan wajahnya. Wangi nafas Raka membuatnya mabuk. Tanpa benar – benar memikirkan apa yang terjadi, bibir lembut Raka sudah mendarat di bibirnya.

Sayangnya, kaca depan mobil Raka bukanlah kaca film yang gelap. Meski parkiran kampus tampak sepi saat itu, namun sepasang mata cokelat terang sempat menangkap apa yang terjadi di dalam mobil silver itu.

Pemilik mata itu, Gisya, mendadak ingin muntah. Entah mengapa, seekor monster terasa bangun dari dalam tubuhnya begitu bayangan Ariel yang dicium Raka terperangkap retinanya. Ini bukan pertama kalinya pemandangan seperti itu dia saksikan.

“Kenapa lo harus marah? Lo nggak berhak tahu!” bisik hati Gisya.

“Marah? Nggak!” bantah otaknya.  “Gue cuma nggak suka aja! Mesum di tempat parkir,”

“Hellow. Apa bedanya sama lo? Nggak inget lo pernah mesum di mana aja?”

“Paling nggak, gue nggak pernah mesum sama cewek! Gue bukan maho kaya’ dia!”

“Tetap aja mesum. Udahlah. Sesama mesum nggak usah saling menghina. Dan dia, juga bukan ayam kaya’ lo. Sekali lagi,  lo nggak BERHAK marah,”

“DIAM LO SEMUA!” raung Gisya. Dia tidak tahan mendengar suara – suara berdebat dari dalam kepalanya.

Menahan keinginan melempar mobil Ariel dengan sepatunya, Gisya bergegas masuk ke dalam kampus. Dia sudah terlambat kuliah.

Sementara itu, suasana di dalam mobil semakin panas saja. Ariel yang semula pasif, mulai membalas lumatan demi lumatan. Tangannya bahkan sudah meremas rambut Raka, menahannya agar tidak menjauh.

Senang dengan respon yang ditunjukkan Ariel, Raka mulai meningkatkan permainannya. Leher  cowok itu mulai jadi sasaran serangan bibir dan lidahnya. Sementara itu, jemarinya mulai bergerilya, menjelajahi bagian dalam kemeja birunya. Ariel menggelinjang kegelian saat putingnya dipelintir lembut.

Hampir saja hal yang lebih jauh terjadi jika Ariel tak segera memalingkan wajahnya.

“Raka, jangan,” ucap Ariel dengan nafas memburu seperti habis berlari jauh.

“Mm, kenapa, Beib? Tanggung ini, ayo dong,” rayu Raka. Dia seperti tidak rela kehilangan momen terbaiknya. Ariel memang sudah menyerahkan hatinya sejak lama, tapi tidak dengan tubuhnya. Hal itu membuat Raka tidak pernah puas.

“RAKA JANGAN! BRENTI! GUE NGGAK MAU!” Ariel mendorong tubuh Raka kasar. Mati – matian membebaskan diri dari pelukan cowok itu.

Raka tertegun. Dia terkejut Ariel bisa bereaksi sekeras itu. Ariel sendiri sama kagetnya. Tidak menyangka dengan keberaniannya sendiri.

“Ehm, Ra – Raka,” kata Ariel gugup. Suaranya melunak lagi. “Sori. Gue minta maaf. Gue belum siap buat ‘itu’,”

Raka menatap Ariel dengan pandangan yang sulit diartikan. Ariel sendiri memilih menghindari kontak mata dengan Raka. Dia menyibukkan diri dengan mengancing bagian atas kemejanya kembali.

“La – lagian, ini di parkiran, Ka. Siapa aja bisa lihat,” mendadak dia teringat pertemuan pertamanya dengan Gisya di toilet lantai empat. “Gue belum siap kalau dunia tahu kalau gue ini … binan. Lo bisa ngerti kan, Ka,”

Raka tersenyum. Tampan. Lalu dia mengusap kepala Ariel dengan sayang.

“Ya udahlah. Santai aja. Nggak usah dipikirin,” kata Raka. “Udah yuk. Ada kelas kan sebentar lagi?”

Ariel mengangguk. Kelegaan menjalari tubuh dan hatinya. Sebelum keluar, Ariel menyempatkan diri memperhatikan bayangannya di kaca. Beruntung kenakalan Raka tadi tak sampai meninggalkan bekas kemerahan di lehernya.

***

<to be continued>

Ini part paling memalukan, asli! 

Saya sampai bongkar- bongkar lapak di boysforum buat cari referensi.

Ternyata nulis adegan mesum itu susah ya?

Hihi… atau karena saya aja yang belum pengalaman

bermesum ria, jadi kesulitan mendeskripsikannya.

Well, saya cuma menjawab tantangan diri saya sendiri, adegan macam apapun harus bisa dituangkan dalam tulisan.

Seperti jurnalis, kadang memang harus ‘tega’ menuliskan sesuatu… bahkan jika itu bertentangan dengan nurani.