Live Your Life :)

Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway”

banner-giveaway

***

Sedari kecil, saya suka sekali main di kuburan. Yang jelas bukan karena saya temenan baik sama tante Kunti atau om Poceng ya! (catet!)

Mungkin, karena saya suka banget sama yang namanya frangipani. Dulu sih ada sebatang di halaman belakang rumah lama, tapi mati karena udah tua.  Makanya, saya suka banget main ke kuburan buat metikin frangipani segar, atau ngumpulin frangipani yang setengah layu dan kering berserakan di bawah batangnya.

“Frangipani apaan sih,Zie?” tanya teman saya kalau saya mulai cerita soal kecintaan saya sama frangipani.

“Frangipani ya frangipani, plumeria,” jawab saya.

“Apalagi  tuh plumeria? Temennya malaria?”

Kalau udah gitu, terpaksa deh saya pakai bahasa kerajaan. Saya kurang suka pake istilah umum ini. Konotasinya sering berubah jadi negatif nggak tahu kenapa. Saya kasih gambarnya aja deh ya? Pasti ngeh semua deh apa itu frangipani 🙂

Frangipani :)

Frangipani 🙂

Hari ini saya kebetulan “semedi” di kuburan lagi. Menenangkan diri dari semua kepalsuan dunia (halah!).

Nggak sih, karena pengen merenung aja biar bisa nulis sesuatu buat ikutan GA-nya Mas Ryan. Percayalah, nggak ada tempat yang lebih bagus buat merenung selain di kuburan.

Saya mikir. Temanya bersyukur. Gitu sih instruksinya ya?

Biasanya, orang-orang akan bersyukur kalau dihadapkan dengan “penderitaan” orang lain. Misalnya, kalau ngelihat orang cacat, orang miskin, orang-orang bernasib malang, pokoknya orang-orang yang nasibnya nggak sebaik kitalah.  Biasanya hati akan tersentuh dan secara otomatis akan berucap syukur karena kebaikan Tuhan ke kita jadi berasa banget.

Normalnya sih begitu. Tapi saat berpikir tentang itu, saya jadi mengutuki profesi saya. Nggak tahu kenapa, sejak jadi wartawan, saya jadi sedikit “mati rasa” dengan hal-hal seperti itu. Mungkin saking udah banyaknya kemalangan demi kemalangan orang lain yang dilihat selama 3 tahun ini.

Tahu sendirilah dunia media tuh kejamnya kaya’ gimana. Bener loh. Dunia media itu kejam!

Contoh simpelnya gini nih :

Polisi : “Halo.Zie. Ke jalan Gagak sekarang. Ada kecelakaan,”

Saya : “Tewas nggak,Bang?”

atau gini

Saya : “Bos, kepala dinas A meninggal tadi pagi. Stroke,”

Boss : “Innalilahi. Bilangin sama anak iklan, suruh lobi ucapan dukanya ya?”

Dan banyak lagi hal-hal yang mungkin terdengar terlalu nggak manusiawi bagi orang-orang yang nggak ngerti.

Nah, kalau udah gitu, jadi gimana donk bersyukurnya?

Saya alihkan pandangan mata saya berkeliling. Sejauh mata memandang cuma ada ratusan batu nisan berbagai warna dan ukuran. Diselingi beberapa batang frangipani dan puring di sana sini. Ah, orang-orang yang tertanam di dalam sana pastinya dulu pernah hidup juga.

IMG_6734

***

Saya pernah merasa begitu dekat dengan kematian saat berteman dekat dengan seseorang.Habis orangnya emang sering banget minta mati sih. Namanya Ariel.

“Tolong ya, nama saya AriEl. Bukan Aril. Ada E-nya. Bisa baca kan?” ujarnya ketus waktu itu. Saya cuma  nyengir kalau dia ngomelin orang. Dia memang selalu sinis sama semua orang, termasuk saya waktu pertama kenal.

Seiring berjalan waktu, saya sadar sikap sinis itu karena Ko Iel (panggilan sayang dari saya), benci dengan kehidupan yang harus dia jalani. Sakit hemofilia bikin dia diperlakukan macam porselen antik dari jaman kaisar nero sama maminya.

Saya yang masih SMP waktu itu nggak habis pikir, kok bisa gitu ada orang sakit yang nggak boleh luka sedikitpun. Entah berapa duit yang dihabisin mami-papinya buat berobat ke singapur atau Jepang kalau sampai dia kegores sedikit aja. Tapi kenyataannya memang gitu, saya pernah lihat dengan mata kepala sendiri, ketusuk duri sedikit aja darahnya ngucur deras kaya’ diiris silet. Belum lagi memar dan lebam-lebam yang sering muncul dengan sendirinya… kontras banget sama kulitnya yang putih mulus. (Apalagi kalau dibandingin dengan kulit gosong saya yang dihiasi dengan banyak banget bekas luka sebagai prasasti kenakalan masa kecil :D)

Puncaknya, suatu hari jarinya nggak sengaja kegores isi staples waktu buka jilidan laporan di tempat kerja dia.  Saya nggak tahu gimana persisnya keadaan ko Iel, karena kita beda kota saat itu.  Yang jelas, dia sempat dirawat di Singapur sebentar, terus pindah ke New Zealand. Nggak sampai sebulan kemudian,  Ko Iel akhirnya berpulang di tanggal cantik. 20 10 2010. Umurnya 22 tahun saat itu.

Saya nggak bisa ke makam ko Iel karena dia dikremasi. Kata maminya sih,emang karena itu permintaan terakhirnya.

Sedih. Iya. Tapi saya tahu persis, Ko Iel udah ngasih pelajaran paling berharga buat saya yang “baru” menapaki kehidupan yang sebenarnya saat itu.

Kalau dihitung-hitung, sekitar 7 tahun saya berteman dengan Koko. Tahun awal saya kenal, dia memang sosok sinis pembenci kehidupan. Tapi setahun terakhir masa hidup dia, saya merasakan perubahan yang sangat drastis. Di tahun ke-7 ko iel sudah berubah jadi sosok yang begitu optimis. Dia terlihat begitu ingin menikmati hidup, karena  mungkin menyadari  waktunya  terbatas. Tapi  dia nggak lagi fokus ke berapa banyak lagi waktu yang tersisa, sebaliknya, dia berfokus dengan gimana caranya menjadikan waktu yang tersisa itu berguna buat siapa saja.

“Gue mau berobat,Zie. Gue mau sembuh. Gue nggak mau bikin mami nangis lagi. Gue mau lanjut kuliah lagi. Gue pengen kerja.  Gue mau hidup lebih baik lagi. Doain gue ya,Zie?”

Tapi toh Ko Iel berpulang juga. Justru disaat dia ingin hidup, bukan disaat dia berulang kali minta mati seperti pada tahun-tahun sebelumnya.

***

So, balik lagi ke GA-nya mas Ryan. Saya berkesimpulan, nggak perlu jauh-jauh cari hal yang bisa bikin kita bersyukur.Setiap nafas kehidupan kita sendiri sudah selayaknya disyukuri sebagai the best gift. Kaya yang mas Ryan bilang di blognya : “GA ini dibuat dalam rangka merayakan hidup”.

Kamu punya masalah? bersyukurlah! Karena tulang belulang yang tertanam di dalam sana nggak punya masalah. Mereka cuma tinggal menunggu pengadilan terakhir yang nggak tahu kapan waktunya tiba.

Nah, kalau dengan sekedar masih bernafas alias “masih hidup” saja kita  sudah bisa bersyukur, pastinya akan lebih mudah menemukan hal-hal lainnya yang akan membuat kita lebih dan lebih dan lebih punya rasa syukur lagi tentunya. Bener nggak sih?

Berhubung word count saya sudah menunjukkan angka 900 kata lebih, give away dari mas Ryan ini saya akhiri  saja dengan mengutip quote entah milik siapa yang ditulis seorang teman di sampul belakang Al Kitabnya.

“Aku selalu meminta banyak hal untuk dapat menikmati hidup, Tapi Tuhan memberiku hidup untuk dapat menikmati banyak hal”

🙂 🙂

Iklan

18 respons untuk ‘Live Your Life :)

      • Wakakakak…..
        biar keren,mas….

        jadi kalau ditanya, kamu sukanya bunga apa? | Frangipani

        Kan keren mas.

        masa gini,
        Kamu sukanya bunga apa? |kamboja | Hiiyy, temenya kunti ya?

        eh, iya apa?
        setahu saya semanggi / clover deh yang jimat…wkwkwk

      • mungkin sejenis mitos.
        di kampungku, biasanya bunga kamboja ada 5 helai mahkota.
        Nah ada 1 atau 2 helai yang akan tumbuh abnormal dengan 4 helai. itu kalau yang menemukannya membawa pulang dan menyimpannya di almari / rak buku maka dia punya jimat yang akan menjadikannya kaya / pintar.

        Wau’allahbi’alam ya.

        Kalau semanggi ataupun clover belum pernah denger.

      • owwhhh… gitu ya…
        clover sama semanggi itu ya sama aja,mas. Saya suka pakai bahasa kerennya. Xixixixi…
        Normalnya kan daunnya 3, kalau nemuin yang berhelai empat, itu tanda keberuntungan. Mitosnya agak-agak kaya bintang jatuh gitu, yang bisa ngabulin permintaan….

        saya sih nggak percaya yang kaya’ gituan,mas. Tahunya juga karena sering banget ada di komik-komik Jepang….

        Ternyata Indonesia punya juga ya? Pake kamboja…. xixixixi….
        Iya, normalnya emang 5 helai kelopaknya… saya lupa pernah nemu yang empat atau nggak :p

  1. Cerita yang menyentuh. Aku suka kutipan di bawah itu. Menurutku kamboja atau bunga kamboja tak berkonotasi negatif. Sama indah bunyi dan citraannya dengan frangipani. Menurutku. 🙂

    • hehe….iya sih,mas eki.
      sebenernya juga sama aja 😀

      cuma frangipani itu terdengar keren karena orang2 di sekitar saya nggak semuanya tau.

      tapi kalau kamboja? banyaknya orang2 bilang gini :
      “ohh,bunga kuburan….” (dengan nada datar yang ‘menghina’ banget menurut saya)

      xixixixi

kata teman...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s