Amaro *)

Tulisan ini disertakan dalam TGFTD – Ryan GiveAway”

Gambar

***

Dia termenung sendiri di tengah keramaian kantin.Cowok itu mencoba mengungkapkan perasaannya dalam sebuah tulisan.Seperti biasa,setiap kali gundah dan tak ada tempat mencurahkan isi hati,dia menulis.  Tulisannya bagus. Dia tahu dia bisa menginspirasi banyak orang lewat tulisannya. Baik yang di blog, maupun yang dia kirimkan ke surat kabar. Mungkin dia harus mulai berpikir untuk membukukan karyanya.

Biasanya dia akan menulis artikel-artikel yang bahkan membuat kalangan penguasa ketar-ketir.Atau kalau tidak, sajak-sajak yang menggambarkan kecintaannya pada alam.Tapi kali ini,Reza,cowok itu ingin sesuatu yang berbeda.Dia berpikir untuk menceritakan saja hal yang sesungguhnya,kemudian diberi label fiksi.Toh tidak akan ada yang tahu,pikirnya.

Reza membuka laptopnya. Lalu mulai mengetik. Judulnya “The Last Letter”.

Kata orang, tidak baik memendam perasaan.Nanti meledak.

Reza tersenyum sendiri. Bingung bagaimana harus mengawali ceritanya. Menulis cerpen sama sekali bukan keahliannya. Matanya melebar, berbinar. Mungkin membayangkan seseorang di sisi dunia lain sana yang mungkin akan membaca cerpennya nanti.

Kamu enak. Kalau sedang butuh didengarkan tinggal cerita ke saya. Tapi Saya? Saya tidak pernah tahu harus cerita dengan siapa. Tidak akan ada yang mengerti. Tidak kekasih, sahabat, saudara, bahkan tidak orang tua saya. Dan saya juga sangat takut untuk cerita padamu. Takut akan konsekuensinya nanti.  Jelas.

Tulisan tentang kita ini, maaf. Mungkin isinya hanya tentang perasaan saya saja. Inipun harus disamarkan menjadi sebuah cerpen.

Buru-buru dia menekan backspace berulang-ulang. Menghapus paragraf terakhir yang barusan diketiknya. Reza termenung sejenak sebelum mengetik kalimat selanjutnya sambil menikmati gorengan.

Saya masih menganggap kamu lebih dari seorang teman,sahabat ataupun saudara. Mungkin kamu itu malaikat, atau manusia setengah dewa. Saya jatuh cinta, padamu. Selalu. Ini yang membuat saya tidak pernah bisa konsentrasi saat berhadapan denganmu, ataupun mendengar setiap kata yang keluar dari bibir tipismu.

Sambil menghela nafas panjang, cowok itu mencoba menepis ingatan yang menenggelamkan hatinya dalam lautan keputusaaan. Diseruputnya teh hangat di sampingnya yang kian mendingin seiring mendung yang mulai menggelayut di luar sana.

Kadang saya berpikir ,seandainya saya ini kekasihmu, akankah semuanya menjadi lebih baik untukmu?Atau saya malah hanya akan menyia-nyiakanmu seperti yang dilakukan orang-orang lain dalam hidupmu? Yah, seperti yang kerap kauceritakan itu. Kau selalu berkonflik dengan para pemujamu. Juga orang tuamu. Ah, mungkin itu karena terlalu besar ego dalam dirimu.

Tapi entahlah,saya juga tak tahu pasti apa penyebabnya. Tapi itu satu-satunya yang terpikirkan saat saya berusaha untuk tidak jatuh cinta padamu, yakni saat saya terhanyut dalam lembaran puisi kecintaan pada gunung, atau justru caci maki untuk para makhluk laknat yang berkubang dalam lumpur kemunafikan bertajuk politik dan kekuasan.

Cowok bermata sipit itu tersenyum lagi. Tertawa dalam hati ketika menyadari cerpennya sama sekali tidak mirip surat cinta. Mungkin sedikit bumbu romantis akan membuatnya lebih baik

By the way, tadi malam saya menempel fotomu di dinding kamar, lagi. Agar saya lebih leluasa memandang indahnya dirimu. Sungguh indah, dan selalu indah. Sama indahnya saat saya baru membuka mata dan disambut bintang fajar, dan tetap indah ketika saya menutup mata setelah mengalami hari yang demikian buruknya.

Oh, terkutuklah juru potret yang membuatmu tetap demikian indah sekalipun hanya tercetak dalam bingkai hitam putih. Sungguh, rasanya saya tak bisa bernafas.

Reza tersenyum untuk kesekian kalinya. Tapi sejurus kemudian,senyum itu mendadak sirna. Berganti tatapan sayu yang demikian memelas.

Saya berharap untuk secepatnya kamu memperoleh cinta sejatimu. Yang jelas itu bukan saya. Saya terlalu jatuh cinta padamu untuk menjadi kekasihmu. Saya selalu buta dengan kekuranganmu, karena selalu terfokus pada keindahanmu saja. Sekarang, saya butuh seseorang yang saya pikir bisa memberi saya ketenangan. Dan saya rasa itu bukan kamu. Saya minta maaf. Mungkin nanti, bukan di semesta yang ini.

Reza membaca lagi surat cinta itu dari atas sampai ke bawah. Pembacanya mungkin akan bingung. Tapi sudahlah, toh surat ini hanya ditujukan untuk dia.

Kamu salah jika berpikir surat ini isinya hanya pengungkap perasaaan saya lagi seperti puisi-puisi yang saya kirimkan sebelumnya. Tapi ini juga bukan ucapan selamat tinggal. Setidaknya,saya sudah lega karena kamu akhirnya tahu betapa berartinya hidupmu bagi saya.

Kamu tahu? akhir-akhir ini saya semakin sulit tidur. Saya memikirkan banyak hal. Salah satunya kamu, tentu. Saya ingin tahu. Mengapa semua ini harus terjadi padamu,pada kita?

Reza menghela nafasnya lagi. Entahlah. Beban di hatinya membuat jemarinya mulai lelah menulis. Dia memandang jauh ke langit kampus. Semakin menggelap. Padahal masih tengah hari. Samar terlihat kilau kilat di kejauhan. Reza kembali tersenyum.

Tapi secara teori,seharusnya saya sudah tahu jawabannya. Tentang mengapa kita harus mengalami semua ini, mengapa kita harus kehilangan orang-orang terdekat, jatuh cinta pada orang yang salah untuk kesekian kalinya, dan mengapa kita akhirnya tidak bisa bersatu dengan orang yang kita pikir belahan jiwa kita. Yang pasti ini bukan hukuman. Ini hanyalah hasrat terdalam dalam hati, yang selalu ingin mengerti apa itu kehidupan.

Pikiran kita hanya berselimut kabut pekat berjudul egoisme atas nama cinta. Kau yang selalu tidak puas dengan pasanganmu, dan saya yang sok jadi malaikat penolong yang tersasar entah dari surga mana. Tapi toh, seharusnya tak lantas membuat kita membenci hidup dan seluruh kehidupan di dalamnya. Ini ujian. Biasanya orang mudah bersyukur jika diberkati, tapi masihkah kita bisa mengucap syukur jika dihadapkan dengan segala keterpurukan ini?

Reza terdiam lagi. Kali ini cukup lama. Tapi lamunannya kembali buyar. Kali ini oleh suara indikator daya laptopnya yang tinggal 10 persen. Reza buru-buru mengetik lagi.

Saya hanya berharap semua berakhir bahagia. Karena seperti yang pernah saya baca, Tuhan selalu memiliki akhir yang indah untuk setiap karyaNya. Jika tidak indah, maka itu belumlah sebuah akhir. Semoga kamu mengerti.

Your secret admirer, Reza.

Tapi Reza menyadari sesuatu. Bukankah ini cerpen? Fiksi? Tidak etis menuliskan namanya sendiri di sana. Maka nama itu dihapusnya, lalu digantinya dengan Christian. Nama yang dicomotnya secara random diantara jutaan nama di kepalanya.

Sementara itu,rintik hujan mulai turun. Reza membaca dari awal sampai akhir buah karyanya. Sedikit kurang puas, dan mungkin akan menuai protes dari para penggemarnya. Tapi toh dia lega sudah menuliskan semua perasaannya.

Beruntung,akses Wifi kampusnya hari ini cukup bagus. Koneksinya lancar. Reza membuka blog personalnya, lalu menyalin dokumen cerpennya itu. Sebelum menekan tombol publish, dia menyempatkan kembali ke bagian atas halaman, dan mengetik dua kata lagi.

Dear Andika.

______________________

*) pahit. Italia.

Iklan

14 respons untuk ‘Amaro *)

  1. :: Cerpen lama. Terinspirasi dari pengakuan Sam yang bilang ke saya -dengan sangat meyakinkan- kalau dia itu suka sama cowok. Yang kemudian bikin kami bertengkar hebat, saat dia bilang kalau itu semua cuma bohong. Katanya dia ingin menguji seberapa jauh saya bisa menerima kejelekan dia. Emang brengsek banget itu Sam… hedeh!

    :: Garis besar ceritanya sudah pernah saya posting di kompasiana, dan saya revisi kembali, menyesuaikan syarat dan ketentuan biar bisa ikut GAnya mas Ryan.

    (Ini catatan tambahan saya bikin di kolom komentar biar nggak menyalahi aturan postingan maksimal 1000 kata)

    Hehe, yang penting kan cerpennya nggak lewat 1000 kata tuh 😀

  2. aluran plot dan bahasa yang digunakan ringan, jadi gak bosen bacanya, but anyway ini masuk kategori apa ya Fiksi atau Non, soalnya waktu daftar di GA nya Mas Ryan, tertulis NonFiksi, benar ya? tq…

kata teman...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s