[Fiksi] Moonlight Sonata (2)

Sebelumnya …

Part 1

***

“Yah, kok nggak jadi, Ka? Gue udah nyampe ini,” keluh Ariel pada
smartphonenya. “Ya udah. Gue nggak balik ke kosan tapi, ya? Tanggung.
Jauh banget. Oke. Oke. Hati-hati ya, Beib!”

Ariel menghela napas. Diinjaknya gas mobil maticnya, menjauh dari
restoran Jepang di sudut kota. Kecewa, Raka, cowok macho berwajah
oriental yang sudah setahun mengisi hatinya itu mendadak membatalkan
janji. Perasaannya tak enak. Mudah-mudahan ini bukan sinyal kalau Raka
ingin menjauh.

Ariel berbelok ke sebuah kompleks perumahan mewah. Dan berhenti tepat
di gerbang rumah bercat putih. Jika jeli memperhatikan, rumah tersebut
dipenuhi ornamen khas Jawa.  Tampak pula beberapa arca batu dan
prasasti buatan di halamannya yang luas. Gemericik air di kolam mungil
sayup terdengar dari samping garasi begitu mesin mobil dimatikan.

“Ariel? Kok nggak bilang mau pulang, sayang?” tegur suara lembut yang
membuka pintu. Perempuan sipit 40 tahun itu terlihat jauh lebih tua
dibanding terakhir kali dilihat Ariel 14  bulan lalu, saat memutuskan
tinggal di apartemennya sendiri.

Ariel menghela napas berat , lalu memeluk maminya itu dengan sayang
tanpa berkata sepatah kata pun.

“Mau makan dulu, sayang? Kamu pasti lapar. Mami suruh bibi panasin
makanan dulu ya? Atau Mami masakin nasi goreng kesukaan kamu?”

Ariel menggeleng lemah. “Nggak usah, Mam. Aku nggak lapar. Mau
langsung tidur aja. Capek,”

Mami mengangguk maklum. Diusapnya ubun-ubun putra sulungnya itu yang
dengan gontai melangkah naik ke kamarnya. Saat di tangga, Ariel sempat
melirik piano putih besar di ruang keluarga. Kosong.

Kamar di lantai dua itu tak berubah. Warna biru muda mendominasi mulai
cat dinding sampai bad covernya. Sebuah boneka teddy bear ukuran besar
teronggok kesepian di tempat tidur. Sedikit feminin memang, jika
mengingat kamar itu adalah kamar seorang cowok 20 tahun.

Ariel lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur dan langsung memejamkan
matanya. Bayangan senyum manis Raka sesaat mampir ke benaknya sebelum
akhirnya tertidur lelap.

Belum ada 10 menit Ariel memejamkan mata, dia tersentak bangun.
Dentang piano terdengar jelas dari ruang tengah di lantai bawah. Nada
– nada adagio mengalun memainkan simfoni duka yang begitu akrab bagi
telinga Ariel : Moonlight Sonata.

Bergegas, Ariel keluar dari kamarnya. Setengah berlari menuruni anak
tangga dua-dua sekaligus. Namun, langkahnya berhenti begitu menginjak
anak tangga terakhir, menatap sosok gadis belia yang duduk anggun di
bangku piano. Tangannya menari lincah di atas tuts hitam-putih, tetapi
matanya menatap nanar langit malam di balik jendela. Bulan purnama
membisu di atas sana.

“Aiko,” desis Ariel. Keharuan mendadak menyelimuti hatinya. Dia baru
menyadari, betapa dia merindukan adiknya itu. Namun, cewek berambut
lurus sepinggang, yang sekilas mirip boneka Jepang itu tak bergeming.
Dia masih asyik memainkan simfoni dari Beethoven itu, tak menyadari
sedikit pun jika ada  yang memperhatikannya.

Ariel melangkah pelan mendekat, namun langsung mematung lagi lantaran
Aiko, gadis itu tiba-tiba menghentikan permainannya dengan sebuah
sentakan.

“Pergi!” Aiko berucap lemah. Meski menyerupai bisikan, kesunyian malam
itu membuat Ariel bisa mendengar jelas apa yang terucap dari bibirnya.
“Pergi! Jangan ganggu gue dulu!”

Ariel terdiam. Dia menanti kata-kata Aiko selanjutnya. Tetapi hanya
kesunyian tak mengenakkan yang terjadi selama beberapa saat.

Lalu Aiko kembali melanjutkan permainannya sementara Ariel terpaku di tempatnya berdiri. Tak lama kemudian, bagian pertama simfoni itu usai. Namun bukannya melanjutkan melanjutkan ke bagian kedua dan ketiga, Aiko malah berbicara sendiri.

“Airi. Udah selesai, sayang. Ini Adagio Sustenuto. Moonlight sonata first movement udah selesai,” Aiko tercekat. Terbata-bata melanjutkan ucapannya yang berubah menjadi isakan.

Ariel tertegun mendengarnya. Dia ingin mendekati Aiko, namun ragu karena cewek itu sama sekali tak menggubris keberadaan dirinya.

“Airi… gue udah selesai… gue bisa jemput lo sekarang… ki – kita bisa main ss-sama sama lagi…” Aiko terisak semakin kencang. Bahunya berguncang hebat, lalu tiba-tiba menjerit.

Ariel tidak tahan lagi. Spontan dirangkulnya gadis yang kini meronta sambil menutupi telinganya itu. Direngkuhnya gadis 16 tahun itu dalam pelukannya.

“Ssshh, Aiko. Ini gue,” Ariel berbisik menenangkan. Aiko seperti tak mendengar, justru semakin histeris. “Aiko. Tenang, Aiko. Ini gue, Ariel,”

“A- Ariel?”

“Iya, ini Ariel,”

Aiko terdiam sejenak. Dengan wajah yang masih bersimbah air mata, ditatapnya sosok di depannya itu dalam- dalam, seolah memastikan bahwa cowok yang di depannya ini betul-betul kakaknya.

“Ariel,” Aiko mendesah lega. Dipeluknya Ariel erat – erat. “Ariel, gue takut,”

“Nggak usah takut, kan ada gue,” bisik Ariel lembut.

“Airi,” mata sipit Aiko tiba-tiba membelalak. Wajahnya memucat. Raut ketakutan jelas terpeta di wajahnya yang kini dibenamkan dalam dada Ariel. “Airi, Riel. Di – dia di sini. Dia di sini. Gue takut,”

“Airi udah pergi, Aiko. Tidur, yuk. Udah malam ini,” Ariel membujuk Aiko agar mau beranjak dari pianonya. Aiko menurut. Tangan Ariel melingkar di balhu Aiko saat keduanya melangkah ke kamar.

Saat berbalik, Ariel terkejut melihat ada seseorang yang berdiri di dekat tangga, tempatnya berdiri beberapa saat lalu. Sosok itu, meskipun cowok, namun mirip sekali dengan Aiko. Tangannya mengepal, matanya menatap tajam ke mata Ariel. Jika dilihat dari gerak-geriknya, cowok itu dipastikan sudah cukup lama di sana untuk memperhatikan apa yang terjadi di ruang keluarga itu.

Bibir Ariel terbuka, namun belum sempat menyampaikan apapun, cowok jangkung itu sudah buru-buru pergi. Ariel mengurut dada dalam hati memperhatikan tingkah cowok itu. Cowok itu adiknya juga. Akira, saudara kembar Aiko.

***

<To be continued>

Moonlight sonata ini judul sementara. Habis nggak enak kalau menulis tanpa judul mulu :p

Eh iya, saya lagi menderita lho ini. Kena chicken fox, ketularan sepupuku. 

Gatal dan panas yang menyiksa ini sih

sebetulnya  bukan  masalah kalau misalnya saya belum kenal Sam.

Habis, Sam bilang adiknya dulu meninggal gara-gara cacar juga.

Jadi parno gitu.

Tapi ya sudahlah, btw, terimakasih sudah membaca. Saya juga mau mencolek om Dani, mbak Ie, dan uda Jo.

Komentator di part sebelumnya. Mudah-mudahan belum bosan membaca 😀

Iklan

8 respons untuk ‘[Fiksi] Moonlight Sonata (2)

  1. Sama sekali gak bosan Zie. Malah penasaran Airi itu siapa? Sedih banget kerasanya si Aiko dan keluarganya kok berasa berantakan ya Zie. Gaya ceritanya dapet banget menurut gw.
    Semoga cepet sembuh ya dari cacarnya Zie, istirahat yang cukup dan berobat ke dokter ya.

kata teman...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s