[Fiksi] Moonlight Sonata (4)

Sebelumnya :

Part 1                   Part 3

Part 2                  

***

Saat itu, Aiko dan Akira baru beberapa bulan menginjak bangku SMA. Karena bakatnya sejak kecil, Aiko si pianis muda sudah terpilih untuk tampil solo di konser dalam rangka peringatan ulang tahun sekolah sebulan lagi. Sudah diputuskan, Moonlight Sonata adalah lagu pilihannya.

            Siang itu, Aiko masih berlatih sendirian di aula sekolah ketika ponselnya berdering. Nama Akira berkedip – kedip di layarnya.

            “Aduh, Kir! Loe ganggu gue aja sih?” jawab Aiko begitu tombol answer di tekannya.

            “Heh! Nggak sopan banget sih? Bilang halo kek, selamat sore kek, apa kek,” Akira merutuk di seberang sana. “Lo sama Airi dimana, Non?”

            “Airi?” Aiko terdiam sejenak mengingat – ingat sesuatu. Sedetik kemudian dia menepuk kepalanya panik. “Ya ampun, Akira! Gue lupa!”

            “Lupa apaan?”

            “Ngng, gue lupa janji mau pulang bareng Airi. Loe nggak sibuk kan? Tolong jemput dia di tempat lesnya ya, Kir? Bilangin gue masih latihan,” kata Aiko melirik jam tangannya. “Kasihan dia, pasti dia capek. Cepet ya, Kir? Dia udah pulang 2 jam yang lalu,”

            “Iya, tenang aja. Tapi lo gimana? Lo pulang sama siapa?”

            “Gue gampanglah. Ntar minta jemput Ariel atau naik taksi. Pokoknya Airi dulu dijemput, gue masih mau latihan,”

            “Udah sore ini,” suara Akira terdengar cemas.

            “Gue masih mau latihan,” tegas Aiko. “First movement moonlight sonata gue  belum lancar. Udah nggak ada waktu lagi. Udah ya, Kir? Bye,”

            Begitu menutup teleponnya, Aiko langsung berkutat lagi dengan lembaran partitur dengan tulisan The Piano Sonata No. 14, Ludwig Van Beethoven di atasnya.

            Sebetulnya, bagian pertama moonlight sonata adalah part yang paling mudah dari tiga bagian yang ada. Setidaknya, tidak sesulit bagian ketiga yang penuh dengan nada- nada cepat yang begitu emosional.

            Namun entah kenapa, Aiko begitu kesulitan menjiwa bagian pertama yang begitu indah dan tenang itu. Aiko lebih senang memainkan bagian dua yang terdengar ringan dan riang, atau bagian ketiga yang begitu liar dan penuh kemarahan. Mungkin, hal itu dipengaruhi watak Aiko yang cenderung temperamental.

            Maka dari itu, perlu latihan ekstra agar Aiko bisa bermain sempurna. Jika sudah duduk di depan piano, Aiko bisa lupa segalanya. Bahkan ponselnya sengaja dia matikan kali ini agar tidak terganggu apapun.

            Menjelang Magrib, Aiko baru menuntaskan latihannya. Dikemasnya lembaran – lembaran partitur, lalu dimasukkan dalam ransel sekolahnya.

            Sekolah sudah sepi, tentu saja. Aiko mengusap peluh di keningnya, lalu mengambil ponsel untuk meminta tolong dijemput. 

            Namun ia kaget begitu melihat mobil Ariel sudah terparkir di gerbang sekolahnya. Aiko tersenyum melihat kakak sulungnya itu. Pasti Akira yang telah memberi tahu kalau dirinya butuh jemputan, pikir Aiko.

            Mendadak, perutnya terasa lapar. Mudah – mudahan Ariel nanti tidak keberatan untuk mampir di warung tenda sebentar sebelum pulang ke rumah.

            “Ariel, lo kok udah di sini? Gue kan belum nelpon lo. Tahu aja gue butuh jemputan,”

            “Tahu dong,” jawab  Ariel singkat. Ariel tersenyum. Namun entah kenapa, Aiko merasa senyum kakak sulungnya itu tidak tulus.

            “Ariel, kenapa sih?” tanya Aiko sambil memasang sabuk pengaman.

            “Kenapa apanya?”

            “Ngng, nggak papa. Nggak jadi deh,” Aiko urung bertanya. Kalau lagi dingin begitu, Ariel biasanya sedang badmood. Lebih baik diam dulu kalau tidak ingin dapat masalah. Sepertinya memang ada yang mengganggu pikiran Ariel. Sejak mobil meninggalkan sekolah, dia terlihat gelisah.

            “Loe udah makan, Aiko?” tanya Ariel setelah keduanya membisu cukup lama.

            Aiko menggeleng. Namun lega karena kakaknya sudah mau berbicara.

            “Nanti kita mampir makan dulu ya?”

            Aiko mengangguk antusias. Kalimat itu yang ditunggunya sejak tadi. Jelas perutnya tidak akan sanggup kalau harus menunggu jam makan malam di rumah yang masih satu setengah jam lagi.

            “Eh, Ariel,” ujar Aiko ragu – ragu.

            “Ya?”

            “Kalau lo nggak keberatan, bisa nggak kita mampir ke toko buku sebentar?”

            “Toko buku?”

            “Iya. Gue mau beli alat lukis buat Airi –ARIEL!!!! ATI – ATI NYETIRNYA!!!- ” Aiko kaget karena tiba – tiba Ariel membanting setirnya, berusaha menghindari sepeda motor yang datang dari arah berlawanan. Entah kenapa, konsentrasi Ariel mendadak buyar begitu nama Airi disebut.

            “Ehm, lo tadi bilang apa?” tanya Ariel setelah mobil kembali melaju lancar di jalanan.

            “Mampir ke toko buku dulu, gue mau beli alat lukis buat Airi,” ulang Aiko. “Dia pasti marah sama gue, Ariel. Karena asyik latihan, gue lupa jemput dia. Padahal tadi pagi gue udah bilang mami buat nggak usah jemput soalnya kita bakal pulang bareng – bareng. Gue nyesel banget. Tapi mau gimana lagi, performnya sebentar lagi. Gue kudu lebih banyak latihan,”

            “Makan pecel lele aja nggak papa, kan?”

            “Ha?” kening Aiko berkerut. Heran karena omongan Ariel sama sekali tidak nyambung dengan apa yang dibicarakannya. Aiko punya firasat kalau kakaknya itu memang sengaja mengalihkan topik.

            “Gimana? Nggak papa kan ya pecel lele?” kata Ariel sambil menunjuk warung tenda di tepi jalan.

            Aiko mengangguk. Perutnya memang sudah kelaparan. Bau ikan goreng yang singgah di hidungnya betul – betul menerbitkan liurnya.

            Ariel sebaliknya. Dia malah tidak makan apa – apa. Dia hanya memesan jeruk hangat dan sabar menunggui Aiko menghabiskan pesanannya. Namun Ariel tampak gelisah, berkali – kali dia mengecek ponselnya dengan raut wajah khawatir.

Tak lama kemudian, keduanya sudah kembali ke dalam mobil. Aiko lega, cacing – cacing di perutnya sudah berhenti berdemo.

            “Ariel, ini kita kemana sih? Ini bukan jalan pulang lho. Kalau mau ke toko buku nggak usah jauh – jauh, di jalan mau ke rumah kan ada,” ujar Aiko heran.

            “Sori, Aiko. Kaya’nya kita nggak sempat ke toko buku deh. Kita harus ke rumah sakit sekarang,”

            “Ru, rumah sakit?”

            “Iya. Rumah sakit. Kita udah ditunggu mami sama ayah. Akira juga udah di sana,”

            “ARIEL! Sebenernya ada apa sih?!” Aiko naik pitam. Kekesalannya memuncak sudah. “Lo tuh aneh dari tadi, tahu! Rumah sakit? Semuanya udah di sana? Maksudnya apa? Siapa yang sakit? Jelasin semuanya ke gue,”

            “Gue bakal jelasin semuanya, Aiko,” ucap Ariel pelan. “Tapi lo harus tenang. Inget, lo harus tenang. Lo harus siap dengan apa yang bakal gue bilang,”

            Aiko mengangguk ragu. Namun dia tidak yakin hatinya bisa setenang yang diharapkan Ariel. Tidak, saat Ariel akhirnya memberi tahu kalau Airi kecelakaan. Airi tertabrak truk tepat di jalan tepat di depan sanggar tempatnya les melukis, hanya sesaat sebelum Akira sampai.

            Tidak ada ketenangan sama sekali di wajah Aiko, yang tinggal hanyalah kecemasan dan kekhawatiran. Juga rasa bersalah karena membiarkan adiknya itu lama menunggu.

            Aiko sudah tak bisa berpikir jernih lagi. Dia bahkan tak yakin bisa mendengar suara Ariel yang memintanya untuk menunggu sejenak begitu tiba di rumah sakit. Dia tak peduli. Setengah berlari dia meninggalkan Ariel yang masih harus memarkir mobilnya.

            Bisa dibilang keajaiban jika dalam kekalutannya itu, Aiko masih bisa menemukan ruang operasi di rumah sakit sebesar itu.

Tepat di dekat pintu ruang operasi, mami tampak menangis di pelukan ayah. Sementara Akira, terduduk lemas di lantai, namun segera berdiri begitu melihat sosok Aiko.

Tanpa pikir panjang, Aiko langsung menghambur ke pelukan Akira. Dia bingung. Dia takut terjadi sesuatu yang buruk. Dia sedih, kecewa, sekaligus marah pada dirinya sendiri. Kepalanya terasa begitu penuh dengan satu nama : Airi.

Aiko bahkan tidak yakin bisa mendengar perkataan dokter berpakaian hijau tua yang akhirnya keluar dari balik pintu yang semula tertutup rapat itu. Aiko tidak bisa mengingat apa – apa lagi. Yang dia tahu, dia terkulai pingsan di pelukan Akira kembarannya.

 

***

 

Airi terkikik semakin keras setelah mendengar cerita Aiko. “Kakak ini lucu deh. Kalau aku ketabrak truk, nggak mungkin aku di sini sekarang,”

Aiko menatap adiknya yang tersenyum jahil itu dari atas sampai bawah. Mengamatinya selama beberapa saat, lalu mendesah lega. Sepertinya dia memang harus mempercayai Airi. Adiknya itu memang baik – baik saja.

“Terus. Kalau kamu nggak ketabrak truk, ngapain kamu main di jalan? Bukannya nunggu jemputan di dalam,”

“Aku nggak main di jalan kok,” bantah Airi. “Aku cuma lihat zebra cross. Habis kan bosan nunggu di dalam,”

“Zebra cross? Kenapa emang zebra crossnya?”

“Hitam – putih,” Airi tersenyum. “Kaya tuts piano. Piano yang besaaaar sekali,”

Aiko ikut tersenyum melihat Airi membentangkan tangannya lebar – lebar.

“Tapi aku memang agak kesel sih sama kakak,” Airi memonyongkan bibirnya, pura – pura cemberut. “Kak Aiko kalau sudah main piano lupa deh sama aku. Aku kan mau main juga sama kakak. Masa sama mas Ariel sama Kak Akira terus?”

“Iya deh. Kak Aiko salah. Kak Aiko minta maaf. Kakak janji, habis ini kita bakal sering main sama – sama, asaaaal,”

“Asal apa?” Airi menunggu ucapan Aiko yang menggantung.

“Asal Airi jangan pergi – pergi lagi. Kak Aiko sayang banget sama Airi. Airi sayang juga kan sama kak Aiko?”

“Iya dong. Sayang banget malah,” jawab Airi sambil memeluk Aiko.

Aiko terharu. Dia membalas pelukan Airi dengan sayang. Mereka berpelukan. Hangat.

Sementara itu, Ariel, sudah sejak tadi berdiri di depan pintu kamar Aiko. Dia hampir tak mampu menahan pilu melihat pemandangan di depannya. Nampan berisi sarapan untuk Aiko di tangannya sampai bergetar hebat, saat melihat adiknya itu menangis sekaligus tersenyum dalam waktu bersamaan.

Tangannya terjulur ke depan, sebelum akhirnya memeluk udara kosong. Aiko berbicara sendiri. Lagi

 

***

Bersambuuungg

Kangen Gisya?

Dia bakal muncul di part selanjutnya 🙂

Iklan

4 respons untuk ‘[Fiksi] Moonlight Sonata (4)

    • Haa… nggak sedalam gali sumur, om Dani 😀

      Aku pernah mau nangis ngeliat cewek di salah satu bangsal RSJ, adegannya lebih kurang kaya’ cerita di atas. Walaupun aku nggak ngerti apa yang dia ocehin… sedih banget lihat dia meluk udara kosong. Masih 16 tahun anaknya… cantik lagi … tapi sayang sakit 😦

kata teman...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s