[Fiksi] Moonlight Sonata (7)

“Wah, lo bisa masak juga, Ar?” celetuk Gisya saat masuk ke dapur. Hanya selembar handuk putih yang menutup tubuhnya. Sehelai handuk lain membungkus rambut panjangnya yang basah. Harum sabun mandi menyeruak di udara, berbaur dengan wangi bumbu soto mie instan.

“Cuma mie rebus. Nggak ada yang dibanggain,” kata Ariel sambil menuang mie dari panci ke dua buah mangkuk di atas meja. “Tapi mendingan sih. Daripada lo, masak air aja pasti gosong,”

Gisya mendelik. Namun tak berkata apa – apa. Mie rebus telur spesial di depannya terasa lebih menggiurkan untuk perutnya yang kelaparan. Dia bahkan menyeruput kuah panas itu langsung dari mangkuknya.

Tak perlu waktu lama untuk mengosongkan mangkuk itu. Baik Gisya maupun Ariel, sama – sama menandaskan 2 gelas air minum sebelum akhirnya melangkah masuk kamar Ariel. Gisya bahkan menyempatkan diri bersendawa. Ah, cewek itu betul – betul terlihat berbeda dengan yang di kampus. Walau tetap cantik meski tanpa polesan make up.

Di kamar bercat biru muda itu, Ariel sibuk membongkar lemarinya mencari – cari sesuatu. Sementara  Gisya yang duduk di tepi tempat tidur king size itu hanya mengamati dalam diam. Berbeda dengan kamar cowok kebanyakan, kamar Ariel terasa begitu wangi dan rapi.

“Nih, pake. Adanya cuma itu,” Ariel melemparkan piyama hijau muda miliknya ke pangkuan Gisya. “Mending kan daripada lo tidur cuma pakai handuk basah. Kalau lo sakit, gue juga ntar yang repot,”

Gisya menaikkan alisnya. Cowok ini perhatian betul.

“Mm, gue mandi dulu,” lanjut Ariel buru – buru.

Pandangan Gisya mengikuti punggung Ariel sampai menghilang di balik pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tanpa berpikir dua kali, dia lantas mengambil piyama yang diberikan Ariel tadi dan langsung dipakainya. Sedikit kebesaran, namun tak masalah.  Cewek itu merasa nyaman, walau sedikit geli lantaran kain lembut itu langsung menyentuh kulitnya tanpa penghalang. Seluruh pakaian, termasuk pakaian dalamnya masih ia keringkan di mesin cuci.

Gisya lalu mengambil bantal dan selimut, dan berbaring di sofa yang ada di kamar itu. Bukan hanya fisik lelahnya yang butuh istirahat, namun otaknya juga. Dia perlu istirahat malam ini. Ada banyak hal yang harus dipikirkannya besok.

Namun baru berselang beberapa menit, teguran Ariel memaksa matanya terbuka kembali.

“Lo tidur di kasur, gue tidur di sofa!” kata Ariel dengan nada memerintah.

“Biar gue di sini aja,” tolak Gisya. “Gue udah terlalu ngerepotin lo malam ini, jadi gue – “

“Kalau gue bilang lo tidur di kasur, lo harus tidur di kasur!”

“Kenapa?”

“Karena lo cewek!”

Benar. Mana mungkin Ariel tega membiarkan seorang perempuan tidur di sofa. Ayahnya berpesan agar Ariel selalu memperlakukan perempuan dengan baik dan hormat. Walau berpendapat ayahnya perlu lebih spesifik lagi memberi tahu perempuan macam apa yang pantas diperlakukan seperti itu, tapi toh Ariel tetap melakukannya.

Gisya sudah ingin membantah lagi. Namun lagi – lagi ia melihat ketulusan di mata cowok itu. Meski enggan, Gisya akhirnya menuruti Ariel untuk bertukar tempat.

Gisya berbaring di kasur Ariel. Empuk, dan hangat. Diliriknya Ariel yang kini berbaring di sofa. Matanya terpejam, tapi Gisya tahu Ariel belum tidur.

“Ariel,” panggil Gisya.

“Hmmm,”

“Lo tahu, gue sempat tersinggung sama lo,”

“Kenapa?” tanya Ariel, masih memejamkan mata.

“Belum pernah ada cowok yang nggak tergoda sama badan gue lho. Gue bahkan sanggup bikin barang cowok bangun hanya dalam hitungan detik,”

Ariel tidak tahan untuk tidak membuka matanya. “Maksud lo?”

“Ya gue tersinggung aja, kok bisa – bisanya sih lo begitu santai dan tenang banget, padahal gue cuma pakai handuk,” kata Gisya. “Cuma akhirnya gue bisa meyakinkan diri gue sendiri, ini bukan soal aura kecantikan dan keseksian gue yang berkurang, tapi,”

“Tapi?”

“Tapi gue sadar, emang mustahil menggoda cowok kaya’ lo. Kecuali kalau ntar perut gue udah sixpack,”

“Anjrit!” umpat Ariel. “Dasar ayam brengsek!”

Gisya tergelak saat sebuah guling melayang ke wajahnya. Dia tidak tersinggung sama sekali dengan umpataan Ariel.

“Awas lo cerita – cerita ke anak – anak!”

Gisya diam saja mendengar ancaman itu. Tanpa dimintapun, Gisya pasti akan menyimpan rapat – rapat rahasianya. Bukan hanya karena cowok itu sudah menolongnya, namun karena dia memang tidak dalam posisi pantas untuk menghakimi apapun yang dilakukan orang lain.

Manusia kadang terlalu mudah membuat kesimpulan tanpa referensi. Terlalu gampang melihat kesalahan, bahkan menjatuhkan vonis ‘bersalah’ pada orang lain. Padahal, kalau mau berkaca, kesalahan diri sendiri kadang sama banyaknya.

Gisya yakin, Ariel – sama seperti dirinya – pasti punya alasan kuat untuk menjalani hidup yang mungkin sama sekali salah itu. Untuk itu, dia tidak mau terlalu jauh berkomentar. Biarlah hakim di atas segala hakim yang menilai setiap dosa yang dilakukan semua  makhlukNya.

Gisya memeluk erat guling yang tadi dilempar Ariel. Meski sudah lupa kapan terakhir kalinya dia mengingat Tuhan, malam itu, dia tidak bisa tidak bersyukur. Pertemuannya dengan Ariel sungguh membuka hatinya. Ternyata Sang Khalik masih bersedia mengulurkan pertolongan, bahkan untuk hambaNya yang paling berdosa sekalipun.

***

Ariel terbangun dengan gelagapan. Dia bingung. Kenapa dia bisa tidur di sofa?

“Gisya?” ucap Ariel begitu kesadarannya kembali sepenuhnya.

Mata Ariel menyapu seluruh kamar, lalu terpaku pada ranjangnya yang kini kosong. Hanya ada piyama biru yang sudah terlipat rapi. Tidak ada tanda – tanda keberadaan Gisya dalam ruangan itu.

“Dasar! Cewek nggak tahu terimakasih. Pamitan aja nggak!”

 ***

<to be continued>

 

Ditulis (eh diketik) dengan hati berbunga – bunga

karena tahu Sam bakal pulang. Tapi

diposting dengan  galau, gara- gara…
Ah sudahlah. #abaikan!

 

 

 

Iklan

5 respons untuk ‘[Fiksi] Moonlight Sonata (7)

    • Kan nggak jadi digoda, ommm…. Arielnya b-9 gitu… mana bisa tergoda sama badan cewek… sama cowok2 yang rajin fitness macem Raka baru tuh… 😀

      Ah, si om mah…. demen banget yang goda – menggoda…. hahaha.///

      Sam dari bengkulu juga… tapi sekarang kerja di Bandung.
      Maaf ya om… rencana kemaren kaya’nya batal deh. Samnya sih jadi pulang, tapi nggak mau ketemuan… jadi nggak bisa nitip 😦

kata teman...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s