[Fiksi] Moonlight Sonata (8)

Dikasih rating 17+  nggak ya?

:p (eh, tapi semua rangkaian cerita ini memang kategorinya dewasa lho. Jadi buat yang masih di bawah umur jauh – jauh sana. Hush…hush! *ngusir!*)

***

“Mmmhh, Raka. Ini di mobil,” keluh Ariel. Dia berusaha menjauhkan wajahnya dari bibir Raka. Namun dia tak bisa menghindari lengan cowok yang kokoh mendekapnya itu.

“Hei! Gue kangen, Beib,” kata Raka, berupaya tetap mencumbu Ariel meski cowok itu mati – matian menolak.

“Gu, gue juga. Tapi nggak di tempat umum juga kan?”

Raka mengalah. Dia menghentikan semua serangannya. Bahkan rangkulannya pada Ariel pun dilepaskan.

“Lo itu sayang sama gue nggak sih. Lo nggak pernah mau lakuin yang gue minta, Ariel,” kata Raka seperti melamun. Pandangannya diarahkan keluar kaca mobil. “Sekarang mau kangen – kangenan aja lo nggak mau. Gue rindu tahu. Berapa hari nggak ketemu,”

Ariel mendadak terdiam. Lalu tersenyum tipis. Tanpa disangka, dia malah balik memeluk Raka. Kepalanya disandarkan pada dada bidang cowok berpiercing itu.

“Gue juga kangen sama lo, Beib. Kangen banget malah,” ucap Ariel sambil menghirup wangi parfum Raka dalam – dalam.

“Tapi kalau soal gue selalu nolak apa yang lo minta, ngng – itu, lo tau kan, Ka?  kekasih yang baik pasti akan menjaga pasangannya dengan baik – baik pula. Bukannya malah merusak. Lagian, sesuatu yang dilakuin sebelum waktunya biasanya berakhir nggak bagus, Ka. Dan gue nggak mau itu kejadian, soalnya gue sayang banget sama lo,”

“Iya, Beib,” kata Raka tak sabar. Tangannya membelai bagian belakang kepala Ariel lembut. “Tapi, menurut gue, rasa sayang itu juga harus diwujudkan. Jangan cuma di omongan doang,”

“Maksudnya?”

“Kalau cuma berhenti di dalam hati, itu cinta yang lemah dan nggak berdaya. Dan kalau cuma sampai di kata – kata, itu pasti cinta yang palsu dan tidak nyata.  Cinta yang sempurna itu seperti pohon. Akarnya terhujam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, dan buahnya menjumbai dalam tingkah laku. Jadi omongan dan perasaan aja tidak berlaku, Beib. Harus diwujudkan juga dalam perbuatan,” beber Raka berpuitis. Raka sudah hafal sekali kalimat – kalimat itu, dan menyampaikannya dengan begitu meyakinkan. Dia yakin, Ariel tidak akan ada tahu kalau semua itu hanya dikutipnya dari twit yang bertebaran di lini masanya.

Tapi Ariel, yang terbuai oleh kalimat – kalimat Raka itu perutnya mendadak seperti penuh dengan kupu – kupu. Dia sampai tidak menyadari bahwa wajah Raka kini begitu dekat dengan wajahnya. Wangi nafas Raka membuatnya mabuk. Tanpa benar – benar memikirkan apa yang terjadi, bibir lembut Raka sudah mendarat di bibirnya.

Sayangnya, kaca depan mobil Raka bukanlah kaca film yang gelap. Meski parkiran kampus tampak sepi saat itu, namun sepasang mata cokelat terang sempat menangkap apa yang terjadi di dalam mobil silver itu.

Pemilik mata itu, Gisya, mendadak ingin muntah. Entah mengapa, seekor monster terasa bangun dari dalam tubuhnya begitu bayangan Ariel yang dicium Raka terperangkap retinanya. Ini bukan pertama kalinya pemandangan seperti itu dia saksikan.

“Kenapa lo harus marah? Lo nggak berhak tahu!” bisik hati Gisya.

“Marah? Nggak!” bantah otaknya.  “Gue cuma nggak suka aja! Mesum di tempat parkir,”

“Hellow. Apa bedanya sama lo? Nggak inget lo pernah mesum di mana aja?”

“Paling nggak, gue nggak pernah mesum sama cewek! Gue bukan maho kaya’ dia!”

“Tetap aja mesum. Udahlah. Sesama mesum nggak usah saling menghina. Dan dia, juga bukan ayam kaya’ lo. Sekali lagi,  lo nggak BERHAK marah,”

“DIAM LO SEMUA!” raung Gisya. Dia tidak tahan mendengar suara – suara berdebat dari dalam kepalanya.

Menahan keinginan melempar mobil Ariel dengan sepatunya, Gisya bergegas masuk ke dalam kampus. Dia sudah terlambat kuliah.

Sementara itu, suasana di dalam mobil semakin panas saja. Ariel yang semula pasif, mulai membalas lumatan demi lumatan. Tangannya bahkan sudah meremas rambut Raka, menahannya agar tidak menjauh.

Senang dengan respon yang ditunjukkan Ariel, Raka mulai meningkatkan permainannya. Leher  cowok itu mulai jadi sasaran serangan bibir dan lidahnya. Sementara itu, jemarinya mulai bergerilya, menjelajahi bagian dalam kemeja birunya. Ariel menggelinjang kegelian saat putingnya dipelintir lembut.

Hampir saja hal yang lebih jauh terjadi jika Ariel tak segera memalingkan wajahnya.

“Raka, jangan,” ucap Ariel dengan nafas memburu seperti habis berlari jauh.

“Mm, kenapa, Beib? Tanggung ini, ayo dong,” rayu Raka. Dia seperti tidak rela kehilangan momen terbaiknya. Ariel memang sudah menyerahkan hatinya sejak lama, tapi tidak dengan tubuhnya. Hal itu membuat Raka tidak pernah puas.

“RAKA JANGAN! BRENTI! GUE NGGAK MAU!” Ariel mendorong tubuh Raka kasar. Mati – matian membebaskan diri dari pelukan cowok itu.

Raka tertegun. Dia terkejut Ariel bisa bereaksi sekeras itu. Ariel sendiri sama kagetnya. Tidak menyangka dengan keberaniannya sendiri.

“Ehm, Ra – Raka,” kata Ariel gugup. Suaranya melunak lagi. “Sori. Gue minta maaf. Gue belum siap buat ‘itu’,”

Raka menatap Ariel dengan pandangan yang sulit diartikan. Ariel sendiri memilih menghindari kontak mata dengan Raka. Dia menyibukkan diri dengan mengancing bagian atas kemejanya kembali.

“La – lagian, ini di parkiran, Ka. Siapa aja bisa lihat,” mendadak dia teringat pertemuan pertamanya dengan Gisya di toilet lantai empat. “Gue belum siap kalau dunia tahu kalau gue ini … binan. Lo bisa ngerti kan, Ka,”

Raka tersenyum. Tampan. Lalu dia mengusap kepala Ariel dengan sayang.

“Ya udahlah. Santai aja. Nggak usah dipikirin,” kata Raka. “Udah yuk. Ada kelas kan sebentar lagi?”

Ariel mengangguk. Kelegaan menjalari tubuh dan hatinya. Sebelum keluar, Ariel menyempatkan diri memperhatikan bayangannya di kaca. Beruntung kenakalan Raka tadi tak sampai meninggalkan bekas kemerahan di lehernya.

***

<to be continued>

Ini part paling memalukan, asli! 

Saya sampai bongkar- bongkar lapak di boysforum buat cari referensi.

Ternyata nulis adegan mesum itu susah ya?

Hihi… atau karena saya aja yang belum pengalaman

bermesum ria, jadi kesulitan mendeskripsikannya.

Well, saya cuma menjawab tantangan diri saya sendiri, adegan macam apapun harus bisa dituangkan dalam tulisan.

Seperti jurnalis, kadang memang harus ‘tega’ menuliskan sesuatu… bahkan jika itu bertentangan dengan nurani.

Iklan

4 respons untuk ‘[Fiksi] Moonlight Sonata (8)

  1. Bahahahahahahahaha. Kesedak gw Zie. Mau dilanjut agak eneg gak dilanjut penapsaran. Gak kebayang gw!!!! Hahahaha. Btw binan apaan sih? Sebutan buat maho?

    • Haha,… iya kali, om. Habis dari yang zie baca… mereka sering pake istilah itu. Binan buat kaum mereka, straight buat cowok – cowok normal yang kadang mereka taksir.

      dan 2 kata itu juga bisa dibikin bentuk kode.
      contoh kalimat : “Ah, tu cowok… gayanya boleh s8 abis, padahal b9 juga :p”

kata teman...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s